marque 1

Selamat Datang (dianjurkan untuk mendengarkan musik pada playlist yang ada)

Wednesday, May 25, 2011

Siang Seberang Istana

Siang Seberang Istana
(lagu ada di playlist)


Seorang anak kecil bertubuh dekil
Tertidur berbantal sebelah lengan
Berselimut debu jalanan

Rindang pohon jalan menunggu rela
Kawan setia sehabis bekerja
Siang di seberang sebuah istana
Siang di seberang istana sang raja


Kotak semir mungil dan sama dekil
Benteng rapuh dari lapar memanggil
Gardu dan mata para penjaga
Saksi nyata yang sudah terbiasa


Tamu negara tampak terpesona
Mengelus dada gelengkan kepala
Saksikan perbedaan yang ada


Sombong melangkah istana yang megah
Seakan meludah diatas tubuh yang resah
Ribuan jerit didepan hidungmu (matamu)
Namun yang ku tahu tak terasa mengganggu


Gema azan ashar sentuh telinga
Buyarkan mimpi sikecil siang tadi
Dia berdiri malas melangkahkan kaki
Diraihnya mimpi digenggam tak dilepaskan lagi


iwan-fals

Tuesday, April 19, 2011

Gandari

Gandari

Lima hari sebelum ibu para Kurawa itu membalut matanya dengan sehelai kain hitam, mendampingi suaminya, raja buta itu, sampai kelak, beberapa detik sebelum ajal…
la, yang tak ingin lagi melihat dunia, sore itu
menengok ke luar jendela buat terakhir kalinya:
Sebuah parit merayap ke arah danau. Dua ekor tikus mati,
hanyut. Sebilah papan pecah mengapung.
Sebatang ranting tua mengapung.
Di permukaan telaga, di utara, dua orang
mengayuh jukung yang tipis, dengan
dayung yang putus asa.

Sunday, April 17, 2011

ANAK INGUSAN DAN PETANG

Add caption
ANAK INGUSAN dan PETANg


sebelum petang, ketika senja di ujung tongkat, pemuda-pemuda kampung membereskan diri masing-masing , duduk bercerita, dicampuri canda tawa iseng tanda permainan sepak bola sore itu telah bubar. Ontel-ontel lawas mengantre sepanjang jalan di samping lapangan, menambah ramai sore itu ketika saling lempar salam terjadi oleh para pemuda dan para pengayuh rante ontel. Desa bekonang memang desa yang ramah, orang orang akan saling menyapa jika bertemu. Setiap sore sebelum petang, jalan penghubung desa dan kota dipenuhi orang lalu lalang, yang berjalan kaki membawa peralatan sawah adalah petani, pejalan kaki telanjang dada adalah pemuda sehabis main bola, pengguna ontel yag kebanyakan gadis-gadis adalah buruh pabrik kota, sedangkan gadis yang lain di rumah mereka menggarap hal-hal yang laak dilakukan ibu rumah tangga. Rutinitas penduduk desa terlihat jelas di tanggul atas lapangan.