Sebuah perasaan itu datang lagi, sesungguhnya, sedikitpun dikedalaman ruang benakku tak ada keberanian untuk kembali menikmati ihwal perasaan padanya. Nadiku terus deras mengalir, degup yang berdetak kencang merekatkan kulit disekujur tubuh, termasuk lapisan kulit di wajahku, terus menarik dari dasar seperti kembang layu menjadi tegang jelita. Sejelita mata sayu berbinar cerah, mulut yang tak kunjung diam dari senyum penuh tak percaya.
Ia duduk di bawah pohon sejuk yang sedari dulu tingginya masih sama, dedaunan jatuh menjangkau tanah di sekitar tubuh yang menghadap sungai bening dari gunung. Aku masih meniliknya dan menimbang keberanian untuk menghampirinya. Sesekali muncul di hatiku, apakah boleh aku merasakan kembali perasaan padanya? kakiku yang tadinya selangkah mendekat berubah arah dan melangkah dua kali. Dan satu pertanyaan datang, Apa benar dia? aku melihat cincin di jari manisnya, tapi tak ada cincin yang kuberi padanya.